Kamis, 03 Februari 2011

KEKUATAN KEYAKINAN

Mana lebih utama untuk meraih kesuksesan, keyakinan atau pengetahuan? Ini bukannya tebakan antara telur dengan ayam, tapi yang benar secara fakta dan data. Saya yakin ada sebagian dari Anda berpendapat keyakinan lebih utama, sebagian lagi pengetahuan lebih utama.

Bagaimana bisa yakin, jika tidak tahu, mungkin itu argumen Anda. Bagaimana dengan surga dan neraka? Sesuatu yang diketahui atau diyakini? Apapun perdebatan yang terjadi, survei membuktikan bahwa, 12% kerja otak kita adalah alam sadar (concious mind), sedangkan 88%nya adalah alam bawah sadar (subconcious mind). Alam sadar adalah identik dengan apa yang kita "ketahui". Alam bawah sadar identik dengan apa yang kita "yakini".


Before you achieve, you must believe (sebelum Anda mencapai sesuatu, Anda harus lebih dahulu yakin atau percaya). Knowledge tidak menciptakan keyakinan, tapi menambah keyakinan yang ada. Berfikir positif adalah pupuknya keyakinan.


Beberapa bulan yang lalu, Gunung Merapi diguncang isu akan meletus. Setelah mendapatkan keputusan dari para ahli, pemerintah setempat mulai 'menggiring' warga untuk evakuasi. Fenomenanya, ada 1 orang tua, yang memiliki keyakinan bahwa Gunung Merapi tidak akan meletus. Dia bukan orang berpendidikan, tidak punya data teknik maupun grafis, dia hanya menggunakan 'intuisinya'. Dia 'ngeyel' untuk tetap tinggal di Merapi karena keyakinannya bahwa Merapi tidak akan meletus. Nah, apa yang terjadi? Ternyata sampai sekarang Merapi tidak meletus. Lepas dari meletus atau tidaknya, si mbah tua tersebut menjadi 'simbol keberanian dan keyakinan' bagi Indonesia saat ini. Siapa namanya? Mbah Maridjan, bintang iklan Extra Joss! Di Indonesia punya banyak simbol 'keyakinan' selain mbah Maridjan, seperti Andrie Wongso dan Bob Sadino.


Darimana datangnya keyakinan itu? Ada 3 cara menimbulkan keyakinan. Pertama, menimbulkan kondisi 'kepepet' (baca: The Power of Kepepet). Misalnya jika Anda punya keyakinan bahwa Anda tidak pede di depan panggung, maka carilah tugas sebagai seorang MC di suatu acara kecil di sekitar Anda. Karena dalam kondisi kepepet, kita dapat mengetahui potensi kita yang terpendam dan dari situlah keyakinan kita akan timbul. Kedua, 'menjangkar ulang' keyakinan lama yang dulu kita rasakan. Misalnya, bagaimana dulu saat Anda mengejar pasangan hidup Anda, padahal menurut orang lain seperti "punduk merindukan bulan" :P. Kalo dulu bisa, kenapa sekarang tidak? Ketiga, ciptakan harapan-harapan baru yang mengalahkan rasa keraguan Anda. Misalnya, visualisasikan dan rasakan kebanggaan jika Anda bisa tampil di panggung sebagai seorang pembicara. Perubahan apa saja secara materi dan emosional jika Anda bisa mencapainya?


Before you achieve, you must believe (sebelum Anda mencapai sesuatu, Anda harus lebih dahulu yakin atau percaya). Karena jika Anda ragu bisa mencapai sesuatu atau tidak, maka otak Anda tidak akan mendukung kerja Anda secara maksimal. Bukankah Tuhan mengikuti prasangka kita saja? Berhati-hatilah dengan apa yang Anda yakini, itu yang akan menjadi kenyataan.




FIGHT!

Jaya Setiabudi
Director Y.E.A
Coach Entrepreneur Camp
Pendiri Entrepreneur Association

Tidak ada komentar:

Posting Komentar