Senin, 22 Oktober 2012

Membangun Keluarga Generasi Qur’ani

Ustadz Budi Dharmawan, S.Psi
Bila kita bicara tentang membangun generasi, maka harusnya kita mengambil contoh dari generasi terbaik yang pernah ada: generasi sahabat Rasulullah SAW. Generasi sahabat itu seperti bintang-bintang yang terang, dan tidak saling meredupkan satu sama lain. Umar bin Khattab itu bersinar sangat terang, tapi terangnya tidak meredupkan sinarnya Abu Bakar. Begitu pun sahabat yang lainnya. Maka merekalah generasi terbaik, dan role model terbaik untuk membina generasi.
Untuk membentuk generasi Qur’ani, tidak dimulai dari mencari seorang istri atau suami, tapi mencari ibu atau ayah. Bedanya mungkin tipis, tapi signifikan. Kalau mencari istri/suami, yang dikedepankan adalah idealita pribadi (apa yang disukai oleh dirinya). Tapai kalau mencari ayah/ibu, yang dikedepankan adalah idealita generasi; Anak-anak seperti apa yang ingin dibentuk, maka carilah ibu atau ayahnya yang bisa menyiapkan anak-anak seperti ini.
Ustadzah Dra. Aan Rohanah, Lc, M.Ag
*due to software error, i lose some of my notes on this part :(
Motivasi menjadikan anak-anak hafal Qur’an sebenarnya sangat banyak. Salah satunya adalah sebuah hadits “Yang terbaik di antaramu adalah yang mengajarkan Qur’an dan mempelajarinya”. Untuk membina generasi Qur’ani, harus bisa mengkondisikan lingkungan. Kalau orang tua sibuk, mungkin gak bisa mengkondisikan anak untuk tahfizh di rumah, jadi bisa dimasukkan ke pesantren tahfizh. Tapi orang tua harus tetap momotivasi. Kalau anak gak betah di pesantren, kalau orang tua visinya beda, mungkin akan dibiarin aja anak itu keluar dari pesantrennya. Tapi kalau visi membangun generasi Qur’ani-nya udah sama, maka anak itu akan dipertahankan, akan dimotivasi terus. Jangan lupa berdo’a, kalau perlu shalat hajat untuk mendo’akan anak yang susah menghafal Qur’an.
Faris Jihady (hafizh, putra Ust Mutamimul Ula & Ustzh Wirianingsih)
Sebenarnya dulu menghafal Qur’an sejak kecil, karena disuruh orang tua. Ada perbedaan kalau kita menghafal sejak kecil dan setelah baligh. Kalau menghafal setelah baligh, keuntungannya itu punya motivasi sendiri,menghafal karena kemauan dan kesadaran sendiri , jadi bisa mengarahkan diri sendiri. Kalau sejak kecil, sangat tergantung arahan orang tua. Untuk membangun keluarga Qur’ani, yang harus dibangun di rumah adalah kebiasaan untuk mencintai Al-Qur’an. Selain itu, perlu memotivasi anak untuk menghafal, dengan memberikan contoh-contoh orang sukses yang hafal Qur’an. Hal ini agar dapat menunjukkan keuntungan hafal Qur’an yang lebih masuk ke logika anak, dibandingkan menunjukkan keuntungan yang abstrak seperti pahala.
Wirda Salamah Ulya (hafizhah, putri Ust Yusuf Mansur)
Wirda sekarang berusia 11 tahun dan sudah hafal Qur’an. Dulu, Wirda berpikir hanya mau menghafal 15 juz aja karena susah menghafal. Tapi pada usia 8 tahun Wirda bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Untuk yang penasaran dengan mimpinya Wirda bisa nonton video chatting dengan YM ini yaa.. Intinya, di akhir mimpinya Wirda, Rasulullah SAW bilang, kalau kamu sungguh-sungguh menghafal Qur’an maka akan Allah mudahkan.
Umar Al Faruq (hafizh, putera Ust Budi Dharmawan dan Ustzh Yoyoh Yusroh)
Semangat Qur’an dibawa ke Indonesia oleh ibunya Umar setelah berkunjung ke Gaza, Palestina. Di Gaza, saat perkenalan dengan ummahat di sana, semuanya menyebutkan nama, jumlah anak, dan pernyataan “saya hafizh Qur’an” atau “saya hafal Qur’an 30 juz”.  Perdana menteri Palestina, Ismail Haniya pun hafal Qur’an 30 juz. Tentara Izzudin Al Qossam, setiap hari saat berjaga di perbatasan gak pernah lepas dari Qur’an. Setiap regu berjaga terdiri dari 10 orang, dan masing-masing membaca 3 juz per hari. Jadi setiap hari 30 juz Al-Qur’an dibacakan. Nggak ketinggalan anak-anak, setiap tahunnya ribuan anak-anak diwisuda hafal Qur’an.
*Hh.. kalau inget Palestina dan Qur’an mah, saya selalu inget ini: “Kalau hafalan cuma 1-2 juz mah di Palestina cuma jadi tukang cuci piring” T_T
Nugraha (hafizh, alumni FE 2006)
Waktu kecil, ia dipaksa masuk pesantren oleh orang tuanya. Karena memang ada kewajiban menghafal Qur’an di pesantren, jadi saat akan lulus SMP ia sudah hafal 16 juz. Masuk SMA, pas kelas 1 ia sengaja ngebut menghafal Qur’annya karena kelas 2 dan 3 ingin fokus persiapan masuk PTN. Perlu diketahui, pas SMA itu dia masih di pesantren yang jumlah mata pelajarannya itu ada 25. Waktu untuk menghafal hanya ba’da maghrib sampai Isya. Karena dirasa nggak cukup, akhirnya Nugraha merelakan waktu mainnya dari ba’da Ashar sampai jam setengah lima untuk menghafal. Setiap ba’da Subuh setor hafalan ke gurunya. Akhirnya, dia bisa menyelesaikan hafalan Qur’annya dalam waktu 4 tahun (3 th SMP dan 1 th SMA).
Menurut Nugraha, hafal Qur’an sangat menguntungkan. Saat kuliah, menghafal pelajaran jadi lebih mudah karena terbiasa menghafal. Dan hafal Qur’an juga menjaga diri dari melakukan tindakan buruk. Masa hafal Qur’an, tapi kelakuan buruk. Jadi, hafal Qur’an jadi benteng juga. Untuk menghafal, sediakan waktu khusus, yang waktunya untuk tiap orang bisa beda-beda.
Sesi tanya jawab
1. Apa yang harus dilakukan orang tua saat membesarkan anak usia 0-5th?
5 tahun pertama adalah golden age. 50% dari diri kita sekarang, dibentuk di 5 tahun pertama itu. Anak pada masa itu punya ingatan sangat kuat dan detail, dan seperti mesin fotokopi (mudah menirukan apa yang dilihat).
Usia 0-5 tahun adalah masa optimalisasi panca indera. Misalnya, kalau anak nunjuk karpet terus nanya ini warnanya apa? Jangan cuma dijawab “hijau”, tapi tambahkan “hijau muda”, atau “hijau toska”, dsb. Kalau anak nunjuk kertas terus nanya, ini apa? Jangan hanya jawab “kertas” tapi jawab lebih detail seperti “kertas folio”, “kertas hvs”, dsb. Jadi pengetahuannya luas.
Anak sangat curious dan otaknya sangat siap menerima banyak informasi. Tapi terkadang orang tuanya aja yang gak siap dan gak punya kapasitas untuk memformat otak anak. Jadi, bukan salah anak, tapi salah ortu yang (misalnya) gak sabar menjawab pertanyaan, gak ngasih informasi lengkap, dll.
Nah, kalau tadi contoh indera penglihatan, indera lainnya pun harus dilatih. Misalnya indera perasa, gapapa lah anak ngerasain sambel dikit tapi abis itu dia tau rasanya pedas. Kemudian contoh lain untuk melatih indera peraba itu ada metode yang dikembangkan oleh Montessori. Jadi ada beberapa bahan dengan tekstur yang beda, misal amplas, terpal, jins, sutera, linen, dll. Potongan kain ini dipasang di sebuah display. Mata anak ditutup kemudian tangannya diarahkan utk meraba 1 tekstur. Kemudian disuruh mengambil pola yg serupa dr sebuah kotak. Jd indera perabanya kuat. Nanti kalau udah besar, ditutup matanya juga bisa bedain uang 50 ribu dan 100 ribu XD Tapi bagaimana pun usia 0-5 tahun juga usia bermain. Kalau anak gembira, ia akan enjoy belajar. Jgn ngasih dia pelajaran di saat hatinya gak gembira.
2. Tips menghafal Qur’an
Tips menghafal dari Bu Aan:
- cari waktu paling efektif untuk menghafal (misal:setelah shalat tahajud atau sebelum tidur)
- setiap ayat yg mau dihafal harus dipahami isinya (baca arti atau tafsirnya dulu)
- diulang berkali-kali, sebelum hafal jangan pindah ke ayat lain
- tulis di buku kecil awal-awal ayat utk membantu (FYI sekarang udah ada Qur’an hafalan yang di pinggir tiap halaman ditulis awal ayatnya)
- rajin murajaah
- berdoa
Tips untuk mendidik anak dgn qur’an:
- dari hamil ibunya rajin menghafal qur’an
- rajin diperdengarkan qur’an (misal saat menyusui)
- sering memperdengarkan nama Allah pada anak
PS: buat yg dtg, kalo baca ada yg salah tlg dikoreksi dan kalo  ada yg kurang tolong lengkapi ya :)
dari kiri ke kanan: Bu Aan – Wirda – Farid (moderator) – Ust Budi – Umar – Faris

Tidak ada komentar:

Posting Komentar