Senin, 04 Juli 2011

pemasaran diferensiasi memiliki arti penting



Diferensiasi berarti bahwa suatu produk atau jasa memiliki tidak saja keberbedaan dengan produk atau jasa yang sudah ada, melainkan juga merupakan titik keunggulan dibandingkan yang lainnya itu. Tetapi, diferensiasi tidak berarti ‘asal berbeda’, sehingga kalau sudah berbeda berarti pasti memiliki titik keunggulan yang dimaksud.

Berbeda dapat diartikan dalam konteks dan sudut pandang yang berbeda-beda pula. Berbeda dalam artian fisik atau proses dapat dikenali dengan mudah, karena perbedaan itu bisa saja dalam bentuk, tampilan, ukuran, dan fungsi. Tetapi perbedaan dalam konteks ini tidak, pada saat yang sama, akan bermakna sekuat apa yang dimaksud dengan diferensiasi di atas.

Dalam konteks diferensiasi, tanpa perbedaan fisik pun sebenarnya dapat memiliki titik keunggulan, misalnya saja suatu produk yang sama bentuknya, sama tampilannya, tetapi sangat mungkin memiliki perbedaan kualitas. Ketika perbedaan kualitas itu begitu nyata, maka hal itu dapat memunculkan diferensiasi yang jelas, sehingga penerimaan konsumen pun akan mampu membedakannya. Sehingga muncullah sebutan ‘produk yang berkualitas’ dan yang ‘tidak berkualitas’.

Sementara kualitas sendiri dapat difahami secara lebih rinci melalui berbagai metodologi pengukuran yang dilakukan, misalnya TQM (Total Quality Management), JIT (Just in Time), Six Sigma dan lain sebagainya. Tetapi secara prinsipil bahwa kualitas merupakan ‘sesuatu yang diharapkan’ konsumen dari produk atau jasa yang dibelinya. Dan konsumen mau membayar mahal untuk setiap jasa atau produk yang berkualitas ini.

Lebih dari itu, kualitas tidak, pada saat yang sama, pasti setara dengan merek. Kalau merek yang terkenal pasti berkualitas. Tetapi, sebaliknya, suatu jasa atau produk akan diminati oleh konsumen dan menjadi terkenal, salah satunya karena berkualitas.

Ambil contoh sepasang jas, yang satu di jahit oleh penjahit ternama dan bermutu, sedang yang lainnya di jahit di penjahit biasa saja dan belum terkenal. Secara prosedur, menjahit sepasang jas relatif sama. Begitu juga bentuknya pun dapat dibuat sama dan dengan menggunakan jenis kain yang sama, serta benang jahit yang juga sama.

Pertanyaannya, apakah hasil jahitannya akan juga sama? Boleh jadi memang relatif sama. Tetapi, dalam kenyataannya, umumnya berbeda. Sekilas tampilannya mungkin sama, tetapi sesungghunya berbeda. Orang sering menyebutnya ‘berbeda kualitas’. Perbedaan kualitas ini pula yang kemudian dianggap sebagai diferensiasi yang kuat dan dipercaya oleh konsumen.

Kualitas tidak semata-mata merupakan suatu ‘perceive value’ yang diterima oleh konsumen sebagai sesuatu yang baik, bagus. Karena kualitas dapat diukur, dibandingkan dan disadari ‘ada’nya dalam suatu jasa atau produk. Ada juga yang menyebut kualitas lebih terkait dengan ‘taste’. Meski prosedurnya sama, tetapi taste-nya berbeda, maka hal itu akan melahirkan jasa atau produk yang berbeda.

Untuk memiliki diferensiasi memang tidak hanya bertumpu karena adanya perbedaan kualitas. Melainkan, masih banyak aspek lain yang kemudian bisa membuat perbedaan antara satu jasa atau produk dengan jasa atau produk lainnya.

Diferensiasi, di sisi lain, juga dapat dilihat dari segmen pasar yang akan dituju. Semakin nyata diferensiasi yang dimiliki, maka sangat boleh jadi segmen pasar yang dituju akan sangat berbeda atau lebih tajam dibandingkan jasa atau produk lain yang dianggap berbeda itu.

Jenis produk yang sama, tetapi terdiferensiasi oleh fungsionalitas yang beragam dan kualitas yang lebih tinggi, misalnya, tentu akan ditujukan untuk segmen pasar yang berbeda pula. Dalam produk-produk elektronik kita mengenal ada yang diebut ‘low-end’ dan ada yang ‘high-end. Biasanya hal itu muncul dalam bentuk penawaran yang berbeda dan dengan harga jual yang berbeda, yang umumnya lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Karena diyakini ada kualitas di sana.

Dipercayai bahwa diferensiasi dapat menyebabkan konsekuensi tersendiri, baik itu berupa harga, kepercayaan konsumen, peningkatan penjualan, dan loyalitas atau, bahkan, fanatisme konsumen, khususnya para pelanggan. Dieferensiasi juga dapat mendorong perlakuan dan penanganan yang berbeda, yang dianggap sesuai dengan nilai yang dimilikinya.

Dalam konteks teknologi informasi (TI), diferensiasi dapat juga dilihat dari ‘bagaimana’ kita memberikan solusi atas ‘apa’ masalah sesungguhnya yang dihadapi seseorang atau sekelompok orang, melalui pemanfaatan TI.

Memberikan solusi dengan cara-cara yang standar dan sesuai dengan prosedur saja, tidak pada saat yang sama melahirkan diferensiasi. Karena, dengan diferensiasi, mestinya jawaban atau solusi yang diberikan mampu lebih jauh memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi secara lebih baik, lebih cepat, lebih tepat sehingga disebut berkualitas.

http://insaviewpoint.blogspot.com/2005/10/diferensiasi.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar